Hati Anak亚当

“ Sungguh hati anak Adam itu lebih cepat berubah daripada(getaran)ketel di saat mendidih。”(as-Sunnah oleh Ibnu Abi Ashim,编号:182)。


Perhatikanlah teko saat air di dalamnya mencapai titik didih。 Tutupnya Bergetar。 Bergeser dari posisinya semula。 Uap air yang bergemuruh membuatnya Bergetar。 Bergerak dan terus berubah。 Kondisi hati manusia lebih cepat lagi berubahnya dari keadaan tersebut。

Ketika menafsrikan ayat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“ Tunjukilah kami jalan yang lurus。”QS。Al -Fatihah:6)。

Syaikh Sa’id al-Kamali membawakan kisah Jabalah bin al-Iham。 卡塔贝柳(Kata beliau):

Jabalah bin al-Iham raja terakhir Kerajaan Ghassan datang menemui Umar。 乌马尔·贝吉比拉(Emar Bergembira)Dengan keislamannya。 Kemudian ia tawaf di Ka’bah dan pakaiannya terinjak oleh seorang Badui bani Fazarah。 Jabalah menempelengnya。 Laki-laki itu mengadu kepada Umar,“ Jabalah bin al-Iham menempelngku”,katanya。 Kemudian Umar memanggil Jabalah,“ Kau memukulnya?” tanya Umar。 “ Bayarlah tebusan atas pukulanmu。 吉卡·蒂达克(Jika Tidak),《库珀林塔坎(kuperintahkan)dia untuk membalasmu》。

“ Bagaimana bisa demikian。 Aku ini seorang raja sementara dia hanya orang pasar吗?” tanya Jabalah keheranan。 “回教徒伊斯兰教徒卡里安·贝尔杜阿·塞塔拉(di mata hukum)”,贾瓦布·乌玛尔(jawab Umar)。

Jabalah mengatakan,“ Aku menyangka,Setelah memeluk Islam aku lebih mulia dibanding di masa jahiliyah”。

Umar menjawab,“ Tinggalkan itu semua。 Tidak bermanfaat萨玛·塞卡里 Bayar tebusan atau engkau dihukum setimpal。”

“ Kalau begitu aku pindah agama Nasrani saja”,jawab Jabalah kesal。

“ Kalau kau murtad menjadi Nasrani,kupenggal lehermu,” kata Umar。

“迪卡·迪卡(Jika Demian),比尔坎·阿库(Biarkan aku)。 Aku akan memikirkan urusan ini nanti malam,” kata Jabalah。

Di malam harinya,例如bessama orang-orang yang setia dengannya pergi menuju wilayah Romawi。 Lalu memeluk蜥蜴人Nasrani。

Dialah Jabalah bin al-Iham,Pernah berjumpa orang shaleh seperti Umar。 Bahkan tawaf bersamanya mengelilingi Ka’bah。 Tapi ia wafat memeluk agama Nasrani。 吉卡·德米奇安(Jika demikian),巴加马纳 Dekat dan ngobrol bersama mereka。 Tentu kita lebih berhati-hati lagi。


Oleh:

Nurfitri Hadi dalam artikelnya yang berjudul “ Menyesal Aku Kehilangan Hidayah”(www.kisahmuslim.com)