提示Memahami Karya Sastra ala A. Teeuw

Telaah singkat banget atas buku Membaca dan Menilai Sastra(1983)

贝里达(Andrew“ Hans” Teeuw lahir di Gorinchem)教授,贝兰达(192年,奥古斯都12月),莱顿(Leingen)脑膜炎(2012年,梅18日)。 sumber:https://twitter.com/htanzil/status/205102815327166467

Sepertinya hari makin singkat dan kian terlipat-lipat,sehingga aktivitas membaca karya sastra seperti小说-yang berisi ratusan halaman-menjadi pekerjaan yang pengap,bahkan untuk membaca puisi pendek sekali pun。 Namun,Absenny,Membaca,Karya Sastra Ini Bisa Jadi Soal kebodohan yang dibiarkan berurat akar,juga karena jiwa homo fabulans kita yang kian terasingkan。 Untungnya ada A. Teeuw,yang mengulurkan tangan lewat karyanya untuk membangkitkan saya dari dunia yang sangat asing ini。

Buku Teeuw扬·赛当·萨达·佩冈·伊恩·比特帕达1983年,扬·赛达·贝里·帕达2017年9月6日,哥打万隆(di salah satu pemeran buku)。 1964年– 1980年,北库伊尼berisi kumpulan karangannya安塔拉。 A. Teeuw Mungkin sudah cukup熟悉的程序是Pasca Sarjana UGM。 Pria yang meraih gelar doktoral di Belanda itu menaruh minat pada kesusasteraan印度尼西亚。 Terbukti dengan tema beberapa karyanya seperti 对印尼马来语和巴哈萨语研究的批判性调查 (1961年),《 现代印尼文学I和II》 (1967年和1979年),dan sebagainya。

“ Manusia,di采样menjadi homo sapiens,homo faber,homo loquens,juga homo fabulans(makhluk bercerita atau makhluk bersastra)。”

Ungkapan Teeuw di halaman 15 itu telah meruntuhkan alasan kita untuk tidak membaca karya sastra。 “ toh saya masih bisa hidup,bekerja,dan tidak jomblo tanpa karya sastra .. saya terlalu sibuk untuk menyentuh karya yang tidak instan itu ……” Teeuw semakin memperkokoh argumennya:

“ Di pangkuan ibunya manusia sudah menjadi manusia bersastra。”hal。16 )。

Di bawahnya,ia menaruh bukti bahwa kita sudah bersastra sejak dalam pangkuan ibu dengan hadirnya syair berikut:

Keplok ami-ami

瓦朗古普库普

阿万·梅姆·罗蒂

本吉·米米克·苏苏

Artinya:

贝尔泰普特拉帕克坦甘

Belalang kupu-kupu

西兰玛坎罗蒂

最小的马拉姆

提示pembacaan dan pemahaman karya sastra ala Teeuw ini sudah ada dari kata pengantarnya。 Katanya,secara garis besar,kegiataan pembacaan,pemahaman dan penilaian karya sastra perlu menggunakan perangkat teori sastra yang jelas dan tegas。 Sementara teori sastra itu pun harus dibangun dengan kegiatan membaca karya sastra yang terus-menerus。 Maka dari sinilah sebagai pembaca karya sastra,harus sudi juga membaca teori sastra。 Salah satu referensi yang perlu dibaca adalah karya A.Teeuw ini。

Teeuw membagi tiga aspek yang perlu dikuasai pembaca sastra; pertama,memahami sistem kode bahasa,kedua memahami kode budaya,ketiga memahami kode bersastra yang khas。 Dari keterangan ini bukan berarti untuk memahami karya sastra kita harus jadi kritikus sastra dulu。 Teeuw meyakinkan kita padah fitrah kita sebagai homo fabulans itu。

Karena memahami karya sastra sama dengan kita berusaha mengambil makna yang tersembunyi atau disembunyikan oleh penulisnya,maka yang pelu diperhatikan adalah alat yang digunakan penulis dalam bersastra itu。 Salah satu perangkat penyampai pesan adalah bahasa,alat komunikasi manusia yang menurut Teew bisa digunakan untuk dunia nyata dan rekaan。 Selain itu,哥德布达亚双ikut menyumbang ekspresi penulis pada karyanya。 Aspek ini baru saya rasakan saat membaca terjemahan karya sastra yang sukar dipahami。 Itu terjadi karena penerjemahan bahasa yang meninggalkan aspek budayanya yang melekat pada bahasa tersebut。

Sementara itu,di aspek ketiga adalah kode sastra。 Teeuw menekankan,kode sastra ini mesti mendapat perhatian yang lebih daripada aspek lainnya。 Karena sastra memiliki dunianya sendiri,玛卡·毛·德·毛·彭巴卡尼亚·梅斯蒂·贝加穆尔·帕达·科德·科德·杨·阿迪·迪尼亚·伊尼。 乌拉圭(Uraian)战舰(Kate Sastra ini) Karena ini adalah telaah yang sangka singkat,maka saya mencoba untuk merangkumnya,dengan konsekuensi ada reduksi yang残酷。

Pertama, kode sastra yang melepaskan belenggu dari keterbatasan bahasa。 Karya Sastra lewat kode sastra ini menggunakan bahasa yang tidak semakna dengan bahasa keseharian。 Sastrawan yang dicontohkan Teeuw adalah Sutarji。 Menurutnya,ia adalah pengarang yang sering mengungkapkan kekesalannya terhadap bahasa sebagai sarana puisi(hal。17)。 Pengarang macam ini merasa konvensi bahasa mesti dibuang,konvensi yang dapat mengekang kebebasan bergerak。 Salah satu penghalang yang dimaksud adalah konvensi makna。 Artinya,Kode Sastra ini menghadirkan pembebasan kata dari kungkungan maknanya

Kedua, kode sastra yang menggunakan bahasa sehari-hari。 Pengarang yang menggunakan kode ini bukan berarti tidak setuju pada penghilangan bahasa sehari-hari dari kelunturannya。 Pengguna kode sastra ini berbeda dari yang pertama,karena lebih menganggap bahasa sebagai kawan daripada lawan。 Alasan penguna bahasa sehari-hari ini menurut Teeuw“ bahasa sehari-hari malahan merupakan sumber kekayaan sastra yang tak bisa habis digali”。 Bahkan dari penggunaan kode sastra inilah bahasa sehari-hari yang tak bermakna itu kemudian dimaknai。 Teeuw mengadirkan puisi Chairil Anwar“ Isa” sebagai contohnya:

伊图·图布

蒙古库拉

蒙古库拉

鲁布

帕塔

Pemakaian bunyi vokal dan persamaan buni u dan a di atas dimaknai dalam kode sastra ini。 karena menurut Teeuw bunyi itu mengandung efek yang kuat sekali,sehingga kita tidak mudah lupa akan baris-barinya。 Bahkan memperkuat makna keseluruhan sajak tersebut。

Ketiga, kode sastra menurut jenis karya sastranya。 Ini adalah tip memahami karya sastra dengan mengetahui jenis karya sastranya。 Karena nuansa小说detektif berbeda dengan小说罗马,begitu pula memahami小说fiksi ilmiah akan berbeda dengan cara menelaah小说berdasarkan kisah nyata。 性别平等。 Menurutnya,ada konvensi yang sukar dilanggar oleh penulisnya dalam menulis cerita ini,misalnya mesti ada mayat,tindakan kriminal,dan adegan sejenisnya yang mendukung pada小说jenis ini。 丹根·德米基安(Dengan demikian),setiap jenis小说,《 punya konvensi dan coraknya·森迪里》,丹根·梅马哈米·科拉克·伊拉赫·哈拉潘·梅哈哈米karya sastra itu sangat mungkin。

Keempat, kode satan yang tak terikat dengan fakta di dunia nyata。 Kode sastra ini menekankan bahwa sastra itu memiliki dunianya sendiri。 Artinya karya sastra itu tidak merujuk pada dunia nyata pengarang。 Dunia nyata ya dunia nyata,Dunia sastra ya dunia sastra。 Pemisahan ini bukan berarti terpisah secara utuh,karena tetap saja karya sastra yang menggunakan kode ini memakai makna unsur bahasa yang dipakai dalam dunia nyata。 Maka lewat kode sastra ini,menjadi haram hukumnya menyandingkan karya pengarang dengan dunia penulisnya,mengangap bawah karya sastra yang ditulisanya sebagai ekspresi dari kenyataan hidup yang Dialaminya。

Kelima kode sastra yang dibangun oleh kebenaran yang普遍。 Karya Sastra Lewat Peniianian ini dibangun dari data bahasa yang mempunyai relevansi,dan signifikansi。 Teeuw menampilkan pertanyaan apakah sajak masih boleh menampilkan cicak吗? (hal.23)塞巴班·特约·穆博莱坎(sayaratnya dunia kecicakan yang ditampilkan itu dapat diberi makna olehnya secara Universal)。

Keenam, Kode Sastra Yang Memakai Unsur-Unsur Yang Koheren。 Sebuah karya sastra menurut Teeuw mesti mempunyai struktur konsisten lagi koheren,yang di tiap bagian menampilkan unsur ensensial dan menempati tempat yanglayak dan wajib(hal.24)。 Dari Sini karya sastra dinilai dari stuktur yang dibangunnya,karena dari sanalah kita dapat merebut makna karangan tersebut。