鲁玛

Rumah tempatku meringkuk kala milyaran rintik hujan meringkus buana…。

Kalian tahu? Rumahku ialah tempat magis sarat akan afeksi!

Ketika perutku bergemuruh,semangkuk nasi hangat yang uapnya menjilat-jilat udara disajikan padaku。

Ketika haus,tersedia likuid transparan nihil substansi kimiawi di atas meja。

Ketika Bosan,ia selalu mengajakku tergelak bersama hingga perut kami dipenuhi kupu-kupu,dan aku selalu mendengar harum lembut darinya yang loyal berada di sisiku。

Ketika aku bermimpi buruk,ia mengusapku,kirimkan tarikan bibir lembut yang menghujam telak rasa dukaku。

卡拉·桑·苏里亚·凯特拉鲁安·佩努·阿尼莫·丹·汉加特·门耶尔玛·帕纳斯·姆姆巴卡(Rumah itu Menjadi atapku)。

Kala Rintik Air Jatuh satu-satu dari singgasananya di angkasa dan serabut kapas hitam membubung luar biasa berani,rumah itu menjadi payungku。

Kala angin ribut merisak batang kokoh pepohonan dan melucuti daunnya,玛卡·达兰·鲁玛·伊图拉·阿库·贝林东。

Karena itu,kawan,rumahku ialah hal kesukaanku! Hingga akhir nanti,kala aku tak lagi sanggup melangkah dan bersorak riang,aku pasti akan tetap di rumah ini。

Jadi,aku tak paham mengapa mereka tidak kembali。 Tak peduli seberapa repetitif aku mencakar sudut pintu kayu。 Tak peduli seberapa eranganku yang menyayat hati kuloloskan dari pangkal tenggorokanku。

嘿,金巴利拉…玛莉·本·伯萨玛·拉吉(mari main besama lagi),伯加龙·丹·基尔基克-奇基克·迪阿塔斯·卡佩。

Aku lapar sekali,tak adakah nasi hangat yang biasa kauberikan itu?

Aku haus sekali,aku bahkan tak dapat berdiri lagi。

Aku suka rumahku。

Mungkin memang benar,sampai akhir nanti,aku tak akan pergi dari sini。 Aku akan tetap di sini,menunggu yang pergi,menyambut yang akan pulang。

Cepatlah kembali…。

“纬!”