Sebut aku munafik,Karena Erat Menggenggam dua lengan tanpa membagi hatiku menjadi dua。
Tetap satu utuh,Untukmu yang disebelah kananku .. Pencuri setiap rasa nyaman。 Dia hanyalah euphoria yang tetap kutahan disebelah kiri .. Ya,aku ingin keduanya ..
Sebut aku binal bila perlu,karena mengaku cintai dia walaupun tetap butuhkanmu ..
Sungguh,Bibir ini Tak Lagi Mampu Memburai Untaian katasayang,Refleksi dari hatiku sendiri .. Aku hancur memandang ke dalam matamu yang terbakar api cemburu,karena aku telah memilih dan kau bukanlah pilihan。
Jangan sepak harga diriku,aku hanyalah seorang perempuan ditimpatempatur buai percintaan yang memanas antara tuan dan nona di negri mimpi。
Silahkan banting aku dengan hujat pedihmu,jangan pernah,asal jangan kau jauh barang se-senti pun
Ketahuilah siksa ini,ketika sinar fajar menjemputku kepadanya yang menamaiku’kekasih’.. Ketahuilah puncak siksaku ketika pada akhirnya sinar petang menjemputku pulang pada dekapanmu yang hanyalah tempatkuber。
Aku ini .. Milik siapa?
Satu purnama kemarin menamparku sampai hatiku terjatuh tanpa kau menangkapnya lagi seperti dahulu .. Bulan berbisik bahwa sesungguhnya aku mencintaimu .. Ya,aku pantas kau tinggalkan karena malah seah。
Tolong jangan berubah,aku masih menggilai pelukanmu wahai gelapku ..
Bila semesta belum menyatukan kita,izinkan aku sekejap memandangmu .. Kau yang memiliki rasaku kini dan kelak .. Percayalah!
Bukan dia ..