
Judul:Markas Cahaya
Penulis:Salman Al-Jugjawy
Penerbit:Bunyan Bentang
Cetakan:Januari,2016年
特巴尔:220哈拉曼
ISBN:978–602–291–146–3
Tepat satu dekade silam,团伙希拉(Sheila)登上了7张Tengah Menapaki kesuksesannya。 Dan Baru saja dielu-elukan sebagai grup band dengan musik-musik berkualitas,salah satu personilnya mengundurkan diri pada 2006。 阿帕拉吉(Apalagi),拉基拉基(laki-laki yang)萨特(akaki)迪拉吉尔(dakang)
Sakti,yang tadinya berambut gondrong dan selalu mengenaokan kaos dan celanan jins berubah menjadi sosok berjenggot panjang dan selalu mengenakan gamis。 Tidak hanya itu,Sakti juga mengubah namanya menjadi Salman Al-Jugjawy。 Semua orang-orang bertanya mengapa Sakti menjadi berubah sedemikian rupa。
Entah apa yang membuatnya memutuskan meninggalkan ruang ketenaran Sheila on 7 yang sedang gencar-gencarnya manggung dari satu panggung ke panggung yang lain。 Sementara itu,semua orang tahu bahwa,Sakti pun juga mencintai musik terutama gitar。 Dan semua orang juga tahu,在7 selama sepuluh tahun上的Sakti telah menapaki karier di Sheila-sejak SO7 baru mampu manggung dari acara pensi ke pensi。 Saat resmi keluar dari SO7 dan mengatakan niat itu kepada seluruh personil,ia menjelaskan bahwa ia hanya ingin mendekatkan diri dengan Tuhan dan belajar Islam lebih banyak。
Markas Cahaya,buku yang ditulis oleh Sakti(sekarang ia lebih akrab dipanggil Salman)sendiri sepertinya dapat menjawab周游世界terjadi satu dekade silam。 Buku ini merupakan tulisan Salman tentang kisah hijrahnya-berbagai pergolakan bantin yang mendera hatinya sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk memantapkan diri untuk terus di jalan Allah。 Dalam menulis buku ini,Salman mengurutkan kronologis kisah-kisah yang menggetarkan hatinya untuk hijrah。 巴厘岛Dimulai ketika ibunya sakit sampai ia bertemua dengan seorang Ustadz。 Di buku itu pula,Salman bercerita tentang kecintaannya terhadap musik semenjak sekolah dasar。
Apa yang terjadi pada Salman sebenarnya telah Dialami pula oleh beberapa musisi lainnya yang rela meninggalkan gemerlap panggung demi ketaatannya kepada agama。 Isu seperti ini pun kemudian menguatkan bahwa agama seolah-olah menjadi tameng akan perkembangan seni。 Padahal,sebetulnya,tidak juga。 Sebab,Salman,Setelah Terjun ke dunia dakwah tetap menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam yang dapat diunduh免费提供。
Namun begitu,saya sendiri tidak cukup puas dengan buku ini。 Ketika selesai membaca cerita pengalaman hijrah Salman-seolah-olah ceritanya dibikin menggantung begitu saja。 Seperti ada sesuatu yang kurang yang seharusnya terdapat dalam buku ini。 Sayangnya,Salman tidak menuliskannya。 Saya memang mendapatkan下颌骨atas牙周炎,tapi hal itu tidak utuh。 Dalam hal ini,saya pun memaklumi karena buku ini tidak hanya autobiografi semata tetapi juga buku dakwah。 Pada bab-bab terakhir,Salman membicarakan tentang iman dan lain sebagainya yang jauh dari konteks kehidupan personalnya dalam menjalani hijrah。 (lpd)