Pelanggan Terakhir di Toko Pena

Toko pena sudah hampir punah di kota ini。 Tak ada lagi orang yang menulis di atas kertas kecuali mereka yang jiwanya terjebak di masa lampau。 Orang-orang seperti Penulis dan Pujangga。

Penulis hidup dari imajinasi cinta dalam komedi尼斯。 Sedangkan Pujangga makan dari torehan luka hatinya。 Tak penting阿拉桑mereka menulis yang penting perut terisi。 比斯尼斯·阿达拉·比斯尼斯。

Beberapa tahun yang lalu mereka bertemu di toko pena terakhir di kota。 Penulis membeli sekotak pena lancip berwarna hitam,dan Pujangga sebotol tinta hitam yang berdasar warna ungu。 Ya,ada,warna tinta seperti itu tapi kau harus memesan setidaknya sebulan sebelumnya。 Wajah Pujangga merekah saat ia menerima pesanannya。 Garis-garis di samping matanya jadi mengerut dan suaranya jadi ramah。 Mungkin itu kali pertama Penulis terdiam tanpa kata。

Perkenalan berubah jadi persahabatan,lalu tali menali menjadi kasih。 Akhirnya kata sayang tertuliskan disebuah puisi yang Penulis yakini ditujukan untuknya。 Sebagai balasan Penulis menjahit dongeng tentang mantel kulit yang berjanji akan mengikut pemiliknya kemana pun ia mengembara。

塔皮图杜卢。 Beberapa tahun yang lalu。

Terakhir aku melihat mereka,Penulis masih hidup dari imajinasi komedi cinta,dan Pujangga tetap makan dari cucuran luka hatinya。 Namun“ cinta” cuma jadi bahan penghidupan dan lauk makanan。 Tiap kali mereka bicara yang satu tersakiti sementara yang lain tertolak。 Ekspektasi达伯拉纳bertemu dalam观测站。 Frustrasi membungkam logika,dan memendam luka。 Maka keduanya berpisah tanpa bicara,takut jadi bahan karangan di kemudian hari。

Sungguh sayang kalau kisah ini harus berakhir。 Kisah kasih antara dua langganan terakhir di toko pena terakhir di kota。 Kalau saja mereka menikah dan beranak,Mungkin toko itu bisa mendapat bibit-bibit langganan baru。 Anak-anak mereka akan mempopulerkan pena digenerasinya,lalu toko itu jadi surga时髦,dan pemiliknya akan sering memesan sahabat-sahabatku yang lain; botol-botol tinta dari Jepang,Prancis dan Amerika。 啊,kalau saja mereka bisa bertemu lagi。 Realitanya,aku akan jadi botol tinta terakhir yang pernah dibeli di kota ini…

啊,耶! Ada satu cara untuk mempertemukan mereka kembali。

Pena-pena milik Penulis setuju dengan ku。 Mereka Mengeringkan Tiap Tetesan Tinta kehidupan mereka。 Walau itu berarti kematian,Namun demi bertemunya Si Penulis dan Sang Pujangga relalah mereka terbuang ke tong sampah satu demi satu。 Aku pun begitu。 Ku tumpahkan segala hitam-ku ke lantai berdalih keteledoran。 Di Bintik tinta terakhir yang tersemat di jari manis Pujangga,aku doakan琼脂mereka bertemu di toko pena,销售商品。