Tak Ada yang Istimewa,Hanya Pak Rudi yang Membakar Sampah Setiap Pagi

Pohon mangga di halaman belakang rumahnya sering rontok dedaunannya。 Setiap pagi,dengan masih memakai kaus oblong lusuh berwarna putih yang menguning,kopiah hitam,dan sarung yang belum ia lepas setelah salat duha,juga tak ketinggalan rokok kretek menempel di bibirnya yang hitam,ia mulai menyaya。

Tak ada teknik atau gerakan khusus,例如hanya mengumpulkan deraunan kering dan mengumpulkannya di satu pojok pekarangan。 Rokok kreteknya ia hisap perlahan dengan khusyuk,penuh kekhidmatan,penuh penghayatan,seperti yang kita saksikan saat orang sedang beribadah menghadap Tuhannya。 Tidak asal hisap lalu hembuskan。 Dalam pikirannya terulang adegan tersebut,adegan yang selalu ia ingat sepanjang hidupnya dan bersumpah tidak akan pernah melupakannya,sehingga ia memutuskan hidup sendiri seperti sekarang。 Kemudian ia jatuhkan rokok kreteknya ke tumpukan daun kering tadi。 Ia nyalakan korek api,丹穆莱·孟巴卡·达杜南·科林。 Pangangannya terlihat puas,巴哈吉。 Lalu,Dengan Tenang ia tinggalkan api Yang Mulai muncul dan Asap yang sudah membumbung ke atas,dan berjalan ke dalam rumah yang sudah ia tempati dua puluh tahun terakhir。

Tubuhnya melangkah tegap,纳蒙酱。 Didikan selama menjadi perwira membuat ia ingat tentang postur tubuh yang benar。 Uang pensiunan yang selama ini ia dapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan perut dan hidupnya。 Ia ingin masa tua yang tenang dan itu sudah ia dapatkan。

Terdengar suara pak pos teriak,“ surat !!”

Pak Rudi menghampiri pagar rumah,mengucapkan terima kasih,dan membawa surat itu ke dalam。 Ia Ambil kacamata bacanya,dan menatap kumpulan kalimat itu perlahan-lahan。

“是的,bagaimana kabar Ayah sekarang吗? Semoga baik-baik saja ya。 Suratku ini menjawab surat Ayah tanggal 12 lalu。 哦,阿耶·塔胡(Ayah tahu),卡劳·塞卡朗(kalau sekarang),帕拉·蒂达克(pert menlurim),苏拉特(untat),贝尔图卡(sukunt)。 Cukup lewat Telepon genggam。 Aku juga baru tahu dari Upik。 Bahkan ia juga memberi tahu caranya menelepon桑比尔·贝塔塔普·穆卡。 Menakjubkan Yah! Teknologi memang mengagumkan dan anak-anak memang mencengangkan! Dia bahkan baru belajar menelepon sambil bertatap muka itu sehari sebelum dia mengajarkanku,是的! Cucumu ini luar biasa!”

帕鲁迪terkekeh膜孟买。

“ Makanya,kupikir tidak ada salahnya untuk menelepon Ayah dengan bertatap muka。 Pinjam saja punya salah satu perwira atau kirim nomornya,biar nanti aku yang telepon dari sini。 Aku tak tahan ingin lihat wajahmu,Yah。 Sekali saja! Walapun aku tahu Ayah akan menolak sebab kalau-kalau melihat wajah Ibu。”

“塔皮·阿亚(Tapi Ayah)哈鲁斯·塔胡(Tapi Ayah) Danang kebetulan menemukan kontrakan yang terjangkau juga dekat dari tempatnya kerja。 Maka kami putuskan mengontrak saja。 卢玛扬 Ngomong-ngomong,kapan Ayah ke rumah? Kalau Ayah tidak mau ke rumah,ke kontrakanku juga bisa。 Upik juga belum pernah bertemu dengan eyangnya。 Kasihan dia。”

“ Mungkin ini juga salah satu permintaan paling egois yang pernah aku pinta,tapi untuk hari pertama di bulan斋月,毛卡Ayah datang ke rumah dan makan sahur bersama Ibu? Hanya makan sahur bersama Yah,tidak lebih。 德阿帕(Pak kalau setelah subuh)Ayah mesti pulang。 Nanti Danang bisa mengantar Ayah。 Yang jelas,kumohon,makan sahur bareng kami Yah。 Untuk tahun ini saja。 Ayah bisa kan?

Salam hangat dari Disa。”

Pak Rudi melipat kembali surat tadi,丹·梅纳鲁尼娅·迪·拉西·贝尔萨马tumpukan surat-surat terdahulu yang dikirim anaknya。 Satu batang rokok kretek ia selipkan di bibirnya dan ia bakar。 尽快杨dihembuskan segera memenuhi ruang腾加。 Ada yang ingin ia lupakan,tap tak pernah berhasil dilakukannya。 Lalu ia Ambil bingkai照片由Immerat的图片,以及keluarkan dari bingkai tersebut dan melipatnya hati-hati untuk ia genggam。 Pak Rudi kembali melangkah ke pekarangan belakang。

柏鲁迪(Pak Rudi) Hari saat ia pulang dari dinas。 Ia lihat anaknya bermain di luar。 Tadinya niat itu —膜猴kejutan kepulangannya — ingin ia laksanakan。 纳蒙·蒂达克·贾迪·丹·贝鲁巴·门贾迪·印加·门格朱特坎·伊斯特里尼亚·达胡鲁。 Langkahnya menuju asap putih yang membumbung dari tumpukan daun kering menjadi perlahan seiring memorinya terpanggil kembali。 Di pikirannya,pada hari itu,sudah terbayang wajah istrinya yang terkejut namun bahagia。

Harapannya seketika sirna saat ia lihat seorang pemuda tetangga menggenjot ranjang di atas tubuh istrinya。 Tangan Pak Rudi meremas potret yang ia genggam。 Asap Putih dari tumpukan daun sudah tebal,Namun mata pak Rudi sudah kebal untuk tidak mengeluarkan air mata。 Sama kebalnya untat tidak menangis saat memutar kembali kenangan tersebut。 Lalu ia buka lipatan-lipatan yang tak keruan pada potret istrinya itu,dan membiarkan lidah api membakarnya perlahan。 Sebuah senyum lebar yang bahagia tersungging di wajahnya。

雅加达Zein 2018