Jangan Baca Buku!

库朗半空! Itu satu-satunya kalimat yang paling tepat untuk memuji sekaligus mengutuk Nietzsche。 Beberapa hari ini,sedang sedang menyiapkan tulisan’agak berat’yang menyinggung“ Nietzsche dan Tuhan yang Terlalu Ilahi”。 Porsi yang dibutuhkan dalam tulisan itu menuntut saya untuk membaca lintas-literatur。 Salah satu buku yang ada di tangan saya adalah“ Ecce Homo”; sebuah autobiografi yang ditulis Nietzsche menjelang masa’gila’-nya。 Karena tulisan agak berat yang saya singgung di muka belum sepenuhnya lahir(ingat,ini masa ujian Al-Azhar dan selaiknya mahasiswa lain,saya harus berkutat dengan diktat),maka untuk mengisi kekosonhal baakanak akakinak baakanak akakinak baakapa Tapi acapkali ketika ingin menulis sesuatu,kata-kata-tiba-tiba saja mampat。 Dan di Sanalah saya mulai membuka buku(阿帕潘·图伊,塔皮·卡里·伊尼,雅,卡利·伊尼·库库,“ Ecce Homo”)

“ Sang pelajar”,“ begitu Nietzsche memulai”,“ yang benar-benar tidak melakukan apapun kecuali’menggelindingkan’buku-buku-sang filolog dalam suatu perkiraan kasar [‘melahap’] sekitarlang sakihisani kaliali 。 丹·巴哈! Dalam ungkapan di atas,ya,khas kritikus,saya yakin Nietzsche tidak bermaksud menganjurkan kita untuk berhenti membaca。 Yangsaya pahami,Nietzsche justru menyarankan kita untuk membaca,hanya saja’membaca dengan kritis’; yakni,berpikir atas apa yang kita baca dan bukan membaca pikiran buku。 Bagaimanapun,buku hanyalah sarana。 Ia seharusnya mampu membuat kita berpikir dalam arti sesungguhnya。

Karya pertama Nietzsche,Lahirnya Tragedi,sebenarnya ia tulis untuk studi filologi masa Yunani kuno。 Tapi oleh banyak filolog,karya ini dianggap terlalu filosofis。 Yang dilakukan Nietzsche dalam buku itu bukanlah deskripsi objektif ala filolog-yang berjubel data,artefak,kutipan-tapi justru Nietszche,melalui戏剧Apollo dan Dionysus,menafsirkan tragedi Yunani dengan sangat berbeda。 Ia menganggap,semangat Dionysian haruslah yang mengilhami kesenian,Jerman pada waktu itu jika dimungkinkan ia untuk menandingi peradaban Yunani Kuno,dan yang selanjutnya,Nietzsche menganggap teater Richard Wagnersianmpanyony Diensiankan keenian。 Sebagai sarjana filog,tentu Nietzsche akrab dengan buku-buku。 Namun bagaimanapun,buku tetaplah sebuah sarana。 Kehidupan sesungguhnya ada di luar kertas itu。 Ya,kehidupan telanjang yang nihil dari tafsir yang“ hebat-hebat”-untuk meminjam Pram。

Sindiran Nietzsche di atas musti diletakkan pada konteksnya,lebih-lebih,Nietzsche pernah menganggap bahwa mungkin saja ia tidak berbakat di bidang filologi karena jiwanya adalah seorang filosof,ya,filosof Godah。 Kajian filologi adalah kajian yang inklusif。 Hidup dan matinya kajian filologi tergantung pada teks(贝鲁tertulis maupun lain sebagainya)dan urusannya lagi-lagi adalah perhal seberapa banyak kita mengenal buku — bukan seberapa progresif kita berpikir mandiri。 Tapi barangkali karena sifatnya yang inklusif,filologi jadi saklek,datar-datar saja。 Memasukkan unsur filosofis ke dalamnya adalah tindakan pemberontakan pada kematangan(benih-benih kefilsafatan Nietzsche mulai terasa di sini)。

**

贝加拉(Baiklah),北安加普(Najap Saja Nietzsche) 丹·奥勒赫·塞巴特·图伯 Syahdan,menaiki kapal,1969年8月16日,membayangkan anaknya sedang berbulan madu,Pram berlayar ke Happy Land Somewhere,katanya itu ialah sebuah pulau kecil di perairan Maluku。 Buku-bukunya dilarang,naskah-naskah setengah jadinya dirampas,dan perpustakaannya disita。 Pun,ia dan segenap kebebasan bernafasnya berulangkali ingin dirampas。 Bagaimana dengan kebebasan berpikir? Buku boleh dirampas,dibakar,dimusnahkan,tapi melarang orang untuk berpikir adalah dosa terberat setelah mengencingi muka担任主席。 印度尼西亚(Pang masih berpikir dan naskah-naskahnya)(仰光孟买(Gemeget),巴吉(saga),纳斯卡(Ensiklopedi Sastra)印度尼西亚sampai sekarang belum dikembalikan — entah dibuang,dibakar,atau masih disimpan militer)恩塔基马纳。 Bukunya masih kita baca,pemikirannya masih kita anut dan kata-kata bijaknya masih sering kita kutip。

Setiap Buku(tentunya buku yang bagus),adalah tindakan melanjutkan。 Dengan kata lain,ia dilahirkan sekaligus melahirkan。 红毛猩猩buku seyogyanya seperti beli permen。 Kita Tidak Akan Pernah Menscap Rasanya Kalau Hanya Kita Lihat。 Ia memerlukan indra lain untuk mendapatkan haknya,yakni lidah。 Buku yang dibaca,dan hanya dibaca,bekerja pada taraf kulit。 坦帕·阿达·丁达坎·科蒂斯(Tampa ada tindakan kritis),孟买·布库·尼亚里斯(sama berbahayanya)Dengan Mengencingi Muka担任主席。 因陀罗河炎itu adalah berpikir mandiri。 Kita boleh membaca 100 buku setiap hari,tapi tanpa sikap kritis,buku-buku itu hanyalah timbunan data yang ampir di otak kita — yang suatu saat akan tertimbun data yang lain dan terlupakan。

Meskipun termasuk budaya dekaden,penyitaan buku hanya的现状; ingat,jauh melampaui pelarangan buku,harus ada pelarangan membaca dan jauh setelah pelarangan membaca,musi berlaku pelarangan berpikir。 Silakan buku-buku itu kalian sita。 Selama orang masih berpikir,例如阿肯色泰塔普(Akan tetap)孟加拉人,梅诺拉克(menolak),梅内加斯(menegasi),米拉万(melawan)。 Kita sedang hidup di zaman di mana membaca lebih penting daripada berpikir。 Melarang buku tak berfaedah apapun,sebab tanpa dilarang,buku sudah cukup membuat orang bebal dan menjadi机器人。 吉卡·提达克(Jika Tidak)和拉兰甘·贝尔皮基尔(rurangan berpikir justru lebih mujarab) Tapi sebelum itu,berpikirlah dulu sebelum melarang orang berpikir! [*]