(来自Randi Arif Ananda的#30Days写作挑战系列)
Hampir pukul 5早餐雅加达亚庇。 Nino duduk disebuah bangku –杨berada didepan sebuah小型超市。 Ia mendesah,kemudian merogoh saku dalam jaketnya。
Diambilnya handphonenya,Yang daritadi sengaja ia matikan。 Nino menghidupkan手机-nya kembali,kemudian menekan tombol panggilan cepat。
Butuh beberapa saat,sampai telepon itu dijawab
“光环。 Aku sudah sampai,kamu dimana?”,Ia berhenti sebentar, Aku kosong saat jam makan siang。 Oke,sampai jumpa” Telepon itupun dimatikan。
Nino meregangkan pinggangnya,tulang iganya pun bergemeletukan sebagai protes karna duduk terlalu喇嘛。
Akhirnya gumamnya,aku sampai lagi di kota yang memuakkan ini。 Kota yang sangat angkuh,Namun keangkuhannya selalu membuat orang ingin kemari dan kemari lagi,setidaknya begitulah menurut Nino。
Nino Bangkit Dari tempat duduknya。 Kemudian teleponnya la了拉格语“ Ya?” katanya,menjawab panggilan tersebut。 “ Tidak usah sayang,aku bisa pulang sendiri”,“ Ya,tentu saja。 Tak Perlu Repot-repot”
梅林伊图·阿达拉·帕卡尼亚 Sudah sekitar enam bulan ini ia menjalin hubungan dengannya,dan kelihatannya ia sudah berhasil mendapatkan hati wanita itu。 恩塔拉(Enghlah),匈牙利妇女(Mungin),梅林(Sangat rumit)–达里·本南·库苏特(dari benang kusut)。 Nanti akan kuceritakan。
Nino Setiawan saat ini tampaknya sedang tidak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh,撒娇。
Ia kemudian melangkah memasuki Mini-Mart itu,ia membeli sebotol minuman sari jeruk,juga sebungkus rokok。 萨特·亨达克·孟买(Saat hendak membayar),克穆迪·梅利哈特·科克拉特·巴坦甘迪·迪卡特·梅贾·卡西尔。 “ Tambahkan yang ini juga”,katanya,赞比亚成员selembar uang Seratus Ribu Rupiah。
Ia keluar dari stasiun,dibukanya rokok yang dibelinya tadi – yang sebelumnya dipukul-pukulnya terlebih dahulu sebelum dibuka。 Kemudian ditariknya asapnya dengan perlahan dan dibuangnya asapnya,secara perlahan juga。
Nino tengadah ke atas,citra itu kembali muncul dipikirannya lagi。 Semua berlangsung cepat dalam pikirannya,suara keributan,gelas porselen,TV yang menyala,tumpahan teh yang membentuk parit,kepala adiknya yang berdarah serta kebakaran yang hebat。
Ia berhasil memaksa kesadarannya untuk masuk。 Diusapnya darah yang mengucur dari hidungnya dengan lengannya。 Untunglah tak ada yang melihat kejadian itu。
Penduduk Kota ini terlalu sibuk,bahkan untuk melihat ke sekelilingnya。 Ya ampun,gumannya,bencana besar telah melanda bangsa ini。 Bencana terbesar bangsa ini adalah ketidakpedulian – setidaknya begitulah menurut banner-banner yang sering dilihatnya,dan entah mengapa Nino setuju。 Ia jadi bertanya-tanya,siapa sih pembuat口号是kepolisian吗? Apakah kepolisian punya instansi khusus untuk membuat口号-标语tersebut?
Di tangan kananya,Nino masih memegangi coklat batangan yang dibelinya tadi。 Ia ingat,bahwa adiknya sangat suka coklat。 Hanya dengan memegangnya saja,membuatnya bisa mengingat adiknya dengan lebih baik。
Ia membuang puntung rokoknya sembarangan,克木甸berdehem sekali。 Ia menyeberangi jalanan yang padat itu,lalu hilang entah kemana。 Seperti hilang ditelan kota yang sangat sibuk itu。