Aku selalu berharap akan datangnya keajaiban。 Harapan itu selalu kurawat dengan baik dan kubiarkan tumbuh subur di pelataran kepala。 Di halaman depan kepala kutanami bunga berwarna-warni nan menentramkan。 Setiap kaki melangkah keluar pintu,suasana nyaman menggenangi benak sambil sesekali digelitik angin kecil yang datang malu-malu。
Pada suatu pagi yang berkabut,aku melihat kaca jendela dihinggapi embun pagi。 Sebuah tanda bahwa hujan turun semalam。 Pagi yang dingin harus kuganggu dengan rutinitas pagi yang harusnya pagi ini tak kurampungkan。 Mestinya aku cukup menikmatinya dengan hangat selimut dan secangkir teh celup panas tanpa gula。 Membiarkan waktu tertahan sejenak,lalu aku berada di dalamnya dengan penerimaan tanpa syarat。
Di sudut kanan kamar kusaksikan lemari seolah-olah mengajak menari。 Ia membuka daun pintunya dengan pelan lalu digerakkannya daun pintu itu ke depan dan ke belakang。 Ia menantangku menggerakkan kaki yang malas dihinggapi rasa nyaman yang terlalu。 Pelan-pelan kucoba luruskan jari tangan,kugepalkan dengan pelan,lalu kulepaskan lagi。 Ternyata nyaman memang membunuh。 Pantas saja kupikir,Tuhan benar telah memberi batas pada setiap aktivitas hamba-Nya。 琼脂(Agar kita)tetap hidup dengan tekanan,丹·帕达·塞迪亚普·瓦克图(dan pada setiap waktu),迪亚·坦帕·阿布森(dia tanpa absen)伯萨马·北·塞拉卢(dela tanpa absen bersama kita selalu)。 Sebuah konsep yang adil untuk aku yang selalu ingin tenggelam pada kemudahan。
Layar komputer masih saja menyala dari semalam。 Remukan kertas yang bergeleparan di lantai menjadi saksi bahwa aku adalah makhluk labil。 Makhluk yang tak pernah puas dengan apa yang ia tulis sendiri。 Padahal semuanya kadang tidaklah terlalu buruk。 Aku menyesal dengan lembaran kertas yang sudah kucetak itu。 Ketika kubaca,阿达·达姆帕罕·梅纳汉·肯南安·杨·佩努·塞萨克·达达。 Aku tak sanggup untuk memutar kembali dengan jelas wajah-wajah tokoh yang menjadi inti dari tulisan。 Aku tak cukup nyali untuk mengalami lagi setiap momen yang hadir di tulisan itu。 Hampir sebahagian hidupku berada di sana,dan tentu saja aku tak yakin dengan apa yang pernah kualami。 Walaupun Mungkin membuatku lebih tahu diri。
Kertas-kertas itu terbuang percuma,seperti harapan yang selalu dijaga entah mengapa。 Merawat harapan butuh tenaga,达·库库普hanya mendiamkannya喇嘛。 喇嘛喇嘛keadaan yang membuat aku berubah:孟买哈拉·哈拉潘喇嘛,恩图克·哈拉潘·哈拉潘·巴鲁。 Membiarkan segala yang lama tertinggal di belakang,dan ku masukkan segala yang lama ke dalam ruangan kosong tak berpenjaga。 Ku kunci pintu ruangan itu dan anak kuncinya ku lem parkan sembarang ke luar rumah。 阿达(Ada dua) 阿库·阿达拉·奥朗(Aku adalah orang)–杨达·毛伊·卡拉·特哈达普·基达安(Ingin terus maju dan berubah menjadi baru tapi tidak Menjadi lain)。
Hari dimana aku berdiri hari ini,ringan seperti bunga sakura yang tertiup angin,kemudian jatuh di halaman kepala。 Walaupun aku tak pernah menanam batang sakura-satu pun-di sana。 Aku tak bisa membayangkan bagaimana raguku tak berkutik seperti hari ini。 Aku pikir,aku akan selalu gusar,setelah aku menyaksikan indah kelopak-kelopak sakura itu,aku mulai mengerti tentang pongahnya waktu dan terlenanya aku。 Kemudian,kesadaran itu diguyur habis oleh hujan oktober yang tak bisa ditebak akan datang atau tidak,deras atau tidak,atau hanya datang dengan rintik-rintik。

Kepalaku Penuh sakura yang diguyur hujan十月dengan suara guruh setelahnya。 Padahal aku ingin sekali menjelama sakura,bukan menyaksikannya berjatuhan di halaman kepala sendiri。